Konyaku Suru Luph Iinazuke

Konyaku Suru Luph Iinazuke
Me And IinaZuke

About Me

Foto saya
South Java, DKI.Jakarta, Indonesia
Hal yang baru dan menarik akan di lakukan..

Senin, 26 Juli 2010

3. Cara penangulangan bagi orang tua yang mempunyai anak yang Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).

Cara penangulangan bagi orang tua yang mempunyai anak yang Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).

Anak Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) orang tua serta guru di sekolah harus membantu mengembangkan kemampuan kognitif anak dan juga membimbing anak tersebut.
Sebelum seorang anak didiagnosis, frustrasi, menyalahkan, dan amarah mungkin telah membangun dalam keluarga. Tua dan anak-anak mungkin perlu bantuan khusus untuk mengatasi perasaan buruk.
Profesional kesehatan mental dapat mendidik orang tua mengenai ADHD dan bagaimana dampak sebuah keluarga. Mereka juga akan membantu anak dan orang tuanya baru mengembangkan keterampilan, sikap, dan cara-cara berhubungan satu sama lain.

Gejala dan penyebab yang terjadi pada Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)

Gejala dan penyebab yang terjadi pada Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)

Seorang anak yang mempunyai Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) lebih dominan untuk melakukan hal-hal yg dikerjakanya sendirian. Susah untuk di ajak untuk berkomunikasi antar individu karena mungkin beraktivitas sendri.
terjadinya Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) mungkin disebabkan adanya gangguan atau kerusakan yang terjadi di dalam otak anak.
Terkadang orangtua yang anaknya Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) sulit sekali untuk mengatur dan juga mengawasinya. Karena dominant beraktivitas semaunya saja yang penting menyenangkan.


Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) mempunyai factor yang menyebabkan anak tersebut adalah factor turunan ( genetic ), sosial dan juga lingkungannya.
Tidak hanya pada anak remaja dan dewasa pun bisa mempunyai Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Karena setiap individu tidak mau hanya duduk saja, dominan orang yang Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) mempunyai kesulitan untuk mematuhi suatu aturan dan bergerak dengan sendirinya.
Tidak ada satu tes yang dapat mendiagnosa mempunyai seorang anak ADHD. Dan seorang anak yang normal pun bisa saja terlihat seperti ADHD. Bahkan jika perilaku anak tampak seperti ADHD, mungkin tidak benar-benar ADHD; hati-hati memperhatikan proses diagnosis diferensial adalah wajib. Banyak kondisi dan situasi yang dapat memicu perilaku yang mirip ADHD. Sebagai contoh, seorang anak mungkin menunjukkan gejala ADHD bila mengalami:
• Sebuah kematian atau perceraian dalam keluarga, orangtua kehilangan
pekerjaan, atau perubahan tiba-tiba .
• Terdeteksi kejang pada badannya.
• Adanya ganguan pada indra pendengaran.
• Mempunyai masalah pada pembelajaran di sekolah.
• Cemas akan sesuatu hal.
• Depresi akan sesuatu hal.
• juga pelecehan anak.
• Sulit untuk berfokus.
• Mudah bosan dalam melakukan suatu aktivitas dan hnya ingin bersenag-senang.
• Tidak mendengarkan orang berbicara dan sibuk pada aktivitasnya.

Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)

Pengertian

Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) adalah suatu ganguan yg terjadi di awal masa kanak-kanak sampai nanti dewasa. Gejalanya merupakan suatu aktivitas yang berlebihan di waktu senggang anak-anak. Ini bisa menyebabkan terjadi gnguan pada perkembangannya, sulit untuk tetap focus pada tujuan, dan juga kesulitan untuk mengendalikan perilaku-perilaku tertentu.
Dalam penelitian ADHD adalah yang paling sering dipelajari dan didiagnosis gangguan kejiwaan pada anak-anak, mempengaruhi sekitar 3 sampai 5% dari anak-anak dengan gejala global dimulai sebelum usia tujuh tahun. ADHD merupakan Common kronis kelainan pada anak-anak dengan 30 sampai 50% dari orang-orang didiagnosis pada masa kanak-kanak terus mengalami gejala sampai dewasa. Remaja dan orang dewasa dengan ADHD cenderung untuk mengembangkan mekanisme bertahan untuk mengkompensasi sebagian atau semua gangguan mereka.

Meskipun sebelumnya dianggap sebagai diagnosis masa kanak-kanak, ADHD dapat terus sepanjang masa dewasa. 4,7 persen orang dewasa Amerika diperkirakan hidup dengan ADHD. ADHD didiagnosa dua sampai empat kali sebagai anak laki-laki seperti yang sering pada anak perempuan, meskipun studi menunjukkan perbedaan ini mungkin disebabkan oleh bias subyektif guru pengarah. ADHD manajemen biasanya melibatkan beberapa kombinasi dari obat-obatan, modifikasi perilaku, perubahan gaya hidup, dan konseling. Gejala-gejalanya dapat sulit dibedakan dari gangguan lain, meningkatkan kemungkinan bahwa diagnosis ADHD akan tertinggal atau sebaliknya. Selain itu, sebagian besar dokter belum menerima pelatihan formal dalam penilaian dan pengobatan ADHD, terutama pada pasien dewasa.

ADHD dan diagnosis dan pengobatan telah dianggap kontroversial sejak tahun 1970-an. The kontroversi telah melibatkan dokter, guru, pembuat kebijakan, orang tua dan media. Pendapat mengenai berkisar ADHD tidak percaya itu ada pada semua untuk percaya ada genetik dan fisiologis dasar untuk kondisi serta perbedaan pendapat tentang penggunaan obat perangsang dalam perawatan. Kebanyakan penyedia layanan kesehatan menerima bahwa ADHD adalah kelainan asli dengan perdebatan dalam komunitas ilmiah keterpusatan terutama di sekitar bagaimana didiagnosis dan diobati. The AMA Council on Scientific Affairs pada tahun 1998 menyimpulkan bahwa kriteria untuk ADHD iagnostic didasarkan pada penelitian empiris dan luas, jika diterapkan secara tepat, mengarah pada diagnosis sindrom interrater tinggi reliabilitas, validitas wajah yang baik, dan tentu saja prediktabilitas tinggi dan pengobatan responsif.

Lingkaran yang Sama atau Beda(subjek wendy)

Nama Percobaan : Lingkaran yang Sama atau Beda
Nama Subjek Percobaan : Wendy
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal

a. Tujuan Percobaan : Untuk membuktikan dua buah lingkaran putih yang dikelilingi bulatan-bulatan putih yang lebih kecil dan lebih besar adalah sama atau tidak.

b. Dasar Teori : Seseorang kadang melihat benda yang sebenarnya tidak ada. Hal tersebut disebabkan oleh adanya persepsi visual yang disebut dengan Persepsi Subjective Contours. Persepsi ini berhubungan dengan neuron prestriate.

c. Alat yang Digunakan : Kertas bergambar lingkaran putih yang satu dikelilingi bulatan-bulatan putih yang lebih kecil sedangkan yang satu lagi, lingkaran putih yang di tengah-tengah dikelilingi oleh bulatan-bulatan putih yang lebih besar dari lingkaran-lingkaran utama.

d. Jalannya Percobaan : Subjek diinstruksikan melihat suatu kertas bergambar lingkaran putih. Gambar pertama terdapat bulatan-bulatan putih yang lebih kecil dibandingkan bulatan putih utama mengelilingi bulatan putih utama. Gambar kedua lingkaran putih yang di tengah dikelilingi oleh bulatan-bulatan putih yang lebih besar dari lingkaran utama. Kemudian subjek diinstruksikan melihat kedua gambar tersebut apakah sama atau beda, lalu asisten mengukur dengan capi meter apakah sama atau beda.

e. Hasil Percobaan : Pada saat subjek diinstruksikan melihat gambar yang terdapat pada kertas dengan gambar pertama, terdapat bulatan-bulatan putih yang lebih kecil mengelilingi bulatan putih utama dan gambar kedua, terdapat bulatan yang di tengah dikelilingi oleh lingkaran putih yang lebih besar dari lingkaran utama. Subjek melihat ukuran yang berbeda antara dua lingkaran utama tersebut walaupun setelah diukur oleh asisten dengan capi meter ukuran kedua lingkaran utama tersebut sama besarnya.

f. Kesimpulan : Pada percobaan ini terjadi persepsi visual dimana lingkaran yang dikelilingi oleh lingkaran lebih kecil terlihat lebih besar ukurannya dibandingkan dengan lingkaran yang dikelilingi oleh lingkaran yang lebih besar. Hal ini karena pengaruh lingkaran-lingakaran yang mengelilingi lingkaran tersebut yang menjadi pembanding.

g. Daftar Pustaka : Andrew. ____, Eye and Mind Focus, [online], (http://andriaspeni.blogspot.com/2007/09/eye-and-mind-focus.html diakses tanggal 26 Februari 2010)

Gerak Bola Mata Menurut Hukum Donders(subjek wendy)

Percobaan : Indra Penglihatan
Nama Percobaan : Gerak Bola Mata Menurut Hukum Donders
Nama Subjek Percobaan : Wendy
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal

a. Tujuan Percobaan : Membuktikan bahwa mata bila di bawa kearah vertical dan horizontal akan tetap atau tidak bentuk pada saat melihat benda, sedangkan pada saat melihat secara diagonal akan berubah seolah-olah gambar tersebut berputar.

b. Dasar Teori : Hukum Donders membahas tentang kelainan refraksi astigmatisma yang terjadi pada kesalahan refraksi sistem lensa mata. Pada astigmatisma, kornea melengkung di salah satu bidang. Akibatnya adalah benda berupa titik difokuskan sebagai garis. Astigmatisma tidak dapat membedakan garis vertikal dan garis horizontal. Dapat dibantu menggunakan kaca mata silinder.

c. Alat yang Digunakan : Kertas dengan dasar merah atau hijau yang ditengah terdapat tanda palang (+) yang berwarna kebalikan dari warna dasar dan warna-warna lainnya.

d. Jalannya Percobaan : Subjek berdiri sejauh 75-100 cm dari bidang yang akan dilakukan percobaan. Kemudian subjek diperintahkan untuk melihat suatu bidang yang menjadi percobaan. Bidang tersebut adalah sebuah kertas yang tertempel di sebuah tembok berwarna dasar merah di posisi tengah terdapat gambar (+) berwarne hijau. Setelah itu subjek diperintahkan mengikuti intruksi asisten untuk melihat gambar tersebut selama kurang lebih 10 detik tanpa berkedip.

e. Hasil Percobaan : Setelah subjek mengikuti instruksi asisten untuk melihat sebuah gambar dengan cara vertical dan horizontal, lalu dengan cara diagonal, pada saat diperintahkan melihat secara vertical dan horizontal dengan melihat ke tengah dan kiri gambar, subjek melihat sebuah garis putih yang terdapat pada sisi kiri dari gambar (+). Tetapi pada saat subjek melihat dengan cara diagonal yang sudah diinstruksikan oleh asisten, hanya terlihat dan terdapat warna dasar dari bidang tersebut.
Hasil sebenarnya dari percobaan tersebut adalah bahwa setelah melihat palang selama kurang lebih 10 menit tanpa berkedip lalu melihat secara vertical dan horizontal maka akan terlihat tanda palang (+) berubah warna menjadi warna background, sedangkan bila melihat secara diagonal, tanda palang (+) berubah menjadi tanda silang dan berubah warna menjadi warna background.

f. Kesimpulan : Percobaan ini mencoba merekayasa mata menjadi mata astigmatisma, bahwa mata astigmatisma tidak dapat membedakan garis vertikal dan garis horizontal namun menjadi garis diagonal.

g. Daftar Pustaka : ____. 2008, Alat-alat Optik, [online], (http://smulab.tripod.com/alatoptik.htm diakses tanggal 26 Februari 2010)

OCD

Gangguan Obsesif-komplusif


Obsesif-komplusif adalah suatu proses pikiran individu, ide, atau dorongan yang berasal dari pemikiran yang instrusif yang menyebabkan suatu kecemasan. Pemikiran atau sifat, ide tersebut berperilaku berulang oleh individu yang ditunjukan untuk mengurangi kecemasan pada dirinya.
Obsesif-komplusif berkaitan dengan kompulsi( compultion ) adalah suatu tingkah laku individu yang berulang-ulang ( repetitive ) seperti mau pergi tidur ia lupa mengunci pintu, kemudian I mengunci pintu tersebut. Tidak lama kemudian ia terbangun dan teringant akan ia yang lupa mengunci pintu tersebut dan mengecek kembali apakh pintu itu sudah di kunci apa belum. Pikiran obsesif sangat menggangu individu sehingga dapat menyebabkan distress yang signifikan.
Kompulsi sering sekali menyertai obsesif pada tingkah laku dan membuatnya menjadi kelegaan akibat suatu kecemasan yg timbul oleh pikiran obsesif.
Obsesif-komplusif dialami 2-3 % dominan yang terjadi pada masyarakat ( APA, 2000; Taylor, 1995 ). Kebanyakan pasien pengidap Obsesif-komplusif banyak yang menunjukan perubahan perbaikan dan ada juga yang belum, melaikan gangguan ini di alami sepanjang hidupnya ( skoog & skoog, 1999). Ganguan Obsesif-komplusif juga menyerang individu perempuan maupun laki-laki. DSM membuat suatu diagosis gangguan Obsesif-komplusif bila seseorang terganggu dengan pemikiran obsesif maupun komplusi yang selalu berulang.

Bintik (Noda) Buta(subjek wendy)

Nama Percobaan : Bintik (Noda) Buta
Nama Subjek Percobaan : Wendy
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal

a. Tujuan Percobaan : untuk mengetahui jarak (dalam cm) bintik buta seseorang serta menentukan letak proyeksi bintik buta.

b. Dasar Teori : Setiap benda yang terkena cahaya akan membiaskan cahaya tersebut melalui kornea. Hasil cahaya yang terbias tersebut masuk ke dalam mata melalui pupil lalu masuk ke dalam lensa mata, pada lensa mata difokuskan dan jatuh pada bintik kuning. Pada bintik kuning terdapat sel batang dan sel kerucut. Sel kerucut peka terhadap cahaya dan berfungsi sebagai fotoreseptor. Rangsang yang diterima sel kerucut berupa cahaya akan diubah menjadi impuls untuk kemudian di kirim ke saraf optik di otak besar bagian belakang (Lobus oksipitalis). Kemudian impuls yang diterima diinterpretasikan menjadi kesan melihat. Pada mata selain terdapat bintik kuning juga terdapat bintik buta. Bintik buta tidak peka terhadap cahaya karena tidak memiliki sel batang dan sel kerucut. Apabila bayangan benda jatuh pada bintik kuning, benda akan terlihat, karena pada bintik kuning terdapat sel batang dan sel kerucut yang akan meneruskan rangsangan yang diterima ke saraf optik yang selanjutnya di kirim ke otak untuk diproses dan terjadilah kesan melihat. Sedangkan bila bayangan jatuh pada bintik buta, tidak akan terjadi kesan melihat karena tidak ada sel batang dan sel kerucut yang akan meneruskan rangsangan cahaya tersebut ke saraf optik.
Panjangnya medan titik buta dapat diketahui dengan menghitung panjang jarak objek hilang dari penglihatan dan jarak objek muncul kembali dalam penglihatan dengan menggunakan rumus berikut.
Jarak medan noda buta = jarak objek hilang – jarak objek muncul
Pada umumnya jarak bintik buta mata kanan dan mata kiri hampir sama untuk kebanyakan orang.

c. Alat yang Digunakan : Kertas hitam dengan tanda lingkaran dan tanda plus berwarna putih, capi meter dan bulatan besar 1 cm berwarna putih dengan tongkat.

d. Jalannya Percobaan : Subjek diinstruksikan mengambil kertas hitam dengan tanda lingkaran dan tanda plus yang berwarna putih, kemudian subjek diinstruksikan melihat dengan fokus pada kertas tersebut dengan melihat salah satu gambar yang ada pada kertas dengan cara salah satu mata ditutup, bila subjek melihat salah satu gambar dengan fokus dan dengan keadaan 1 mata ditutup. Kemudian kertas yang dipegang ditarik ke depan pelan-pelan hingga gambar yang terlihat menjadi hilang, kemudian diukur menggunakan capi meter. Kemudian kertas yang terdapat gambar tersebut ditarik kembali sampai gambar terlihat kembali dan diukur kembali menggunakan capi meter.

e. Hasil Percobaan : Setelah melakukan percobaan tersebut, didapatkan data bahwa pada jarak 32 cm gambar menghilang dari penglihatan dan muncul kembali pada jarak 18 cm.

f. Kesimpulan : Gambar pada percobaan tersebut menghilang karena pada jarak tersebut bayangan objek jatuh pada bintik buta yang tidak memiliki sel batang dan sel kerucut yang peka terhadap cahaya dan berfungsi sebagai fotoreseptor. Akibatnya rangsangan cahaya yang jatuh pada bintik buta tidak dapat diubah menjadi impuls dan tidak dikirimkan ke saraf optik sehingga tidak ada kesan melihat atau objek seolah-olah menghilang.
Panjangnya medan noda buta diukur dengan rumus berikut:
Jarak medan noda buta = jarak objek hilang – jarak objek muncul
= 32 cm – 18 cm
= 14 cm
Jadi jarak medan noda buta subjek adalah sepanjang 14 cm.

g. Daftar Pustaka : Mariana. 2008, Laporan Praktikum Biologi Bintik Buta Pada Manusia, [doc], (http://smulab.tripod.com/alatoptik.htm diakses tanggal 26 Februari 2010)